Pasangkayu, TeropongJakarta.com – Prada Dimas Fiisabilillah Agusti menempuh jalan panjang sebelum akhirnya menjadi prajurit Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat. Sejak duduk di kelas 1 Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), pemuda asal Jawa yang akrab disapa Fiisabilillah itu telah menetapkan satu tujuan hidup: membanggakan orang tua dan mengabdi kepada negara melalui TNI.
Kini, Fiisabilillah resmi bertugas di Batalyon Infanteri TP 874 Vovasanggayu yang bermarkas di Jengeng Raya, Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat. Penugasan tersebut menjadi capaian dari proses panjang yang ia bangun sejak usia muda melalui kedisiplinan dan konsistensi.
Sejak masa sekolah, Fiisabilillah membiasakan diri menjalani rutinitas fisik secara teratur. Di luar kegiatan akademik, ia aktif mengikuti latihan lari dengan bergabung di klub lari di Surabaya. Aktivitas tersebut ia jalani sebagai bagian dari upaya membentuk ketahanan fisik dan mental, sekaligus menjaga pola hidup disiplin. Selain itu, pengalaman unik yang ia anggap penting adalah renang melintasi Selat Madura. “Itu pengalaman yang bikin saya semakin semangat untuk mendaftar TNI. Rasanya tantangan itu mengajarkan saya bertahan dan tidak mudah menyerah,” ujarnya.

Menurut Fiisabilillah, tantangan terbesar dalam proses menuju dunia militer bukan terletak pada kemampuan fisik semata, melainkan menjaga konsistensi latihan dalam jangka panjang. “Yang paling berat adalah konsisten. Bukan soal kuat atau tidak, tapi bertahan untuk terus menjalani proses,” katanya. Ia menyebut doa dan komitmen sebagai dua hal yang selalu berjalan beriringan dalam perjalanannya. Keduanya menjadi pegangan saat menghadapi fase kelelahan dan keraguan. Prinsip itu pula yang kemudian ia bawa ke dalam kehidupan militer.
Sebagai prajurit, Fiisabilillah menekankan pentingnya disiplin, kepatuhan, dan ketaatan kepada pimpinan. Menurut dia, nilai-nilai tersebut bukan hanya tuntutan institusi, tetapi fondasi utama dalam menjalankan tugas sebagai abdi negara. “Disiplin dan patuh adalah kunci dalam setiap penugasan,” katanya.

Penempatan di Pasangkayu ia jalani sebagai bentuk tanggung jawab profesional. Ia menyadari, pilihan hidup sebagai prajurit menuntut pengorbanan, termasuk mengurangi ruang bagi kehidupan personal di usia muda. Namun ia menilai pengorbanan itu sebagai bagian dari proses menuju masa depan yang lebih terarah.
Fiisabilillah juga menilai pentingnya memiliki tujuan yang jelas sejak dini. Menurutnya, fokus pada satu tujuan akan membantu seseorang bertahan dalam proses panjang yang penuh tantangan. Ia percaya bahwa keberhasilan bukan datang secara instan, melainkan melalui usaha yang dijalani secara konsisten.
Bagi Fiisabilillah, menjadi prajurit TNI bukanlah titik akhir, melainkan kelanjutan dari perjalanan hidup yang dibangun sejak bangku sekolah. Dengan latar belakang disiplin sejak muda dan pengalaman menantang seperti renang Selat Madura, ia kini menjalankan tugas negara dengan prinsip yang sama: bekerja, patuh, dan bertanggung jawab.
