Solo, TeropongJakarta.com – Suatu malam, ketika tagihan kos menunggak dan uang makan menipis, Putri Riyan hanya punya dua pilihan: berhenti atau bertahan. Ia memilih bertahan dengan cara yang tak lazim bagi seorang mahasiswa kedokteran.
Kini, di usia 22 tahun, Putri menjalani hari-harinya sebagai dokter muda di Universitas Sebelas Maret. Di luar ruang klinik, ia adalah wajah dari puluhan video promosi di TikTok, menggerakkan penjualan ratusan juta rupiah setiap bulan.
Perjalanan itu tidak dimulai dari kekurangan. Putri tumbuh dalam keluarga berkecukupan. Namun pandemi COVID-19 mengubah segalanya. Bisnis sang ayah terhenti, aset keluarga menyusut, dan stabilitas ekonomi runtuh perlahan.
Saat diterima di Fakultas Kedokteran UNS, kondisi keuangan keluarga justru kian tertekan. Ia sempat menunggak uang kuliah dan hampir kehilangan tempat tinggal karena tidak mampu membayar kos tepat waktu.

Di tengah tekanan itu, Putri kembali pada kebiasaan lamanya: berjualan. Sejak kecil ia terbiasa berdagang kecil-kecilan. Saat SMA, ia bahkan sempat menjalankan bisnis thrifting. Kali ini, ia memanfaatkan media sosial mengunggah konten makeup dan skincare secara konsisten.
Awalnya, hanya produk gratis yang ia terima. Lalu, bayaran Rp50 ribu per video. Angka itu perlahan naik hingga kini mencapai Rp1,2 juta hingga Rp1,5 juta per konten.
Cobaan terbesar datang ketika ayahnya meninggal akibat kanker paru. Tabungan yang tersisa habis untuk biaya pengobatan dan kebutuhan keluarga. “Saya sempat merasa semua berhenti di situ,” ujar Putri.

Namun setelah itu, grafik usahanya justru menanjak. Melalui skema affiliate di TikTok, Shopee, dan Instagram, ia mencatat total penjualan bulanan yang kini berada di kisaran ratusan juta.
Aktivitas itu tidak dijalani sendiri. Ia telah mempekerjakan tiga orang untuk membantu operasional live streaming harian. Dalam satu hari, Putri bisa siaran langsung hingga 12 jam, di sela jadwal koas yang padat.
Penghasilan tersebut menjadi tulang punggung keluarga. Ia membiayai pendidikan dua adiknya, memenuhi kebutuhan ibunya, sekaligus menutup biaya kuliah kedokterannya sendiri.
“Dulu saya sering berpikir dua kali untuk makan. Sekarang, saya hanya ingin adik-adik saya tidak merasakan hal yang sama,” katanya.

Di lingkungan sekitarnya, pilihannya sempat dipandang sebelah mata. Seorang mahasiswa kedokteran yang aktif berjualan di media sosial dianggap tidak lazim. Putri mengaku pernah merasa malu.
Namun waktu mengubah persepsi itu. Baginya, menjadi dokter dan berjualan bukan dua hal yang saling meniadakan. Yang satu adalah cita-cita, yang lain menjadi jalan bertahan hidup dan kini, sumber keberlanjutan keluarga.
Di antara ruang praktik dan layar ponsel, Putri menemukan satu hal yang pasti: bertahan sering kali bukan soal pilihan ideal, melainkan keberanian untuk terus berjalan, bahkan saat keadaan tidak berpihak.
