Palembang, TeropongJakarta.com – Kreativitas tidak selalu lahir dari pemikiran abstrak. Bagi Amelya Husada, perempuan asal Palembang, Sumatra Selatan, energi, estetika, dan ide kreatif muncul dari tubuh yang bergerak. “Kesadaran saya tentang energi dan kreativitas berawal dari tubuh, bukan hanya dari imajinasi,” ujarnya sambil menatap jendela gym, tempat cahaya sore menyinari lantai kayu yang memantulkan gerakannya.
Momen sederhana seperti melompat di trampoline, memukul bola golf, bermain padel, atau mendorong batas diri di gym bukan sekadar olahraga. Tubuh menjadi medium ekspresi, tempat energi berpadu dengan emosi dan visual. Sebagai muse makeup, Amelya melihat wajah bukan sebagai kanvas kesempurnaan, tetapi sebagai cermin yang menangkap energi dan gerak hidup. “Wajah saya menjadi tempat menyimpan cerita, bukan hanya untuk dilihat, tapi dirasakan,” katanya.
Olahraga menjadi ritual pengisian ulang. Gerakan membuatnya hadir sepenuhnya, napas menenangkan, dan keringat mengingatkan bahwa kekuatan dan keindahan bisa berjalan bersamaan. Inspirasi muncul ketika tubuhnya lelah. Pikiran menjadi lebih jujur, ide mentah lahir tanpa dipaksakan, lebih nyata dan personal. “Saat itulah kreativitas saya terasa paling hidup,” ujarnya.
Amelya menekankan pentingnya menyelaraskan ide kreatif dengan ritme tubuh. Seperti olahraga, visual dan makeup punya tempo: ada intensitas, ada jeda. Ia tertarik pada estetika organik kulit yang bernapas, ekspresi yang bergerak, detail yang terasa alami. Kesempurnaan bukan tujuan; keseimbangan antara kekuatan dan kelembutan lah yang dicari. “Estetika yang hidup adalah estetika yang mengikuti energi tubuh,” jelasnya.
Energi dan kreativitas Amelya tidak selalu stabil. Ada masa ketika tubuh lelah dan pikiran penuh tekanan. Alih-alih memaksakan diri, ia merawat energi: olahraga ringan, istirahat, atau kembali ke rutinitas sederhana. Dengan menjaga hubungan jujur dengan tubuh, kreativitas perlahan kembali, tetap autentik, dan estetika tetap terasa nyata.
Pesan yang ingin disampaikan Amelya melalui karya dan kehadirannya sebagai muse sangat jelas: perempuan boleh kuat sekaligus lembut, aktif sekaligus estetik. Energi nyata lahir dari gerakan, kepercayaan diri, dan keberanian menjadi diri sendiri adalah inti estetika yang ia perjuangkan. “Kalau karya saya bisa membuat seseorang merawat tubuh, mengekspresikan diri, atau melihat kecantikan sebagai sesuatu yang hidup, tujuan saya tercapai,” katanya.
Di dunia kreatif yang sering memisahkan kekuatan dari keindahan, Amelya membuktikan keduanya bisa hidup bersamaan. Tubuhnya bukan hanya mesin, tetapi kanvas yang merekam energi, emosi, dan estetika. Dari Palembang, ia menunjukkan bahwa kreativitas paling autentik lahir dari kejujuran terhadap tubuh sendiri dan keberanian mengekspresikannya.
Bagi Amelya Husada, estetika dan kreativitas bukan sekadar soal tampilan. Mereka lahir dari energi yang bergerak, tubuh yang dirawat, dan ekspresi yang jujur. Setiap gerakan, setiap pukulan, setiap lompatan, menjadi manifestasi kreatif yang nyata, autentik, dan menginspirasi. Ia membuktikan bahwa kekuatan dan keindahan bukan dua hal yang terpisah, tetapi bagian dari cara hidup yang selaras, berani, dan hidup sepenuhnya.
