Depok, TeropongJakarta.com – Di balik seragam Polwan yang kini dikenakannya, Bripda Putri Wulansari menyimpan kisah panjang tentang disiplin, kerja keras, dan perjuangan yang dimulai jauh sebelum dirinya menjadi anggota Polri. Perempuan yang akrab disapa Putul itu mengaku perjalanan hidupnya dibentuk oleh dunia olahraga, khususnya bola voli yang telah menjadi bagian dari kesehariannya sejak duduk di bangku kelas 4 SD.
Ketertarikannya pada voli yang awalnya hanya sekadar mencoba, perlahan berkembang menjadi jalan hidup yang membawanya masuk ke SMP dan SMA Negeri Ragunan, sekolah atlet yang dikenal melahirkan banyak talenta olahraga nasional. Di sanalah Putri merasakan kehidupan yang jauh berbeda dibandingkan remaja pada umumnya.
“Enam tahun saya hidup dengan alarm pukul 04.00 pagi. Tantangan terberat sebenarnya bukan latihan fisik, tetapi melawan rasa malas setiap hari. Dari situ saya belajar disiplin dan tanggung jawab,” ujar Putul.

Menurutnya, kehidupan di sekolah atlet tidak hanya berisi latihan teknik olahraga. Setiap hari dimulai dengan latihan fisik, lari pagi, push up, sit up, hingga latihan teknik yang dilakukan berulang kali. Sebagai seorang outside hitter, Putri dituntut menjadi salah satu andalan tim dalam menghadapi berbagai pertandingan.
Tekanan yang tinggi membuatnya terbiasa menghadapi kegagalan, kritik, dan rasa sakit. Namun justru dari pengalaman itulah ia belajar menjadi pribadi yang lebih kuat.
“Di sekolah atlet tidak ada kata capek. Yang ada hanya ulang lagi, perbaiki lagi, dan coba lagi. Kami diajarkan untuk bangkit secepat mungkin setiap kali gagal,” katanya.
Putul mengaku banyak nilai yang ia pelajari selama menjadi atlet ternyata sangat membantu ketika mengikuti pendidikan kepolisian pada 2023. Saat menjalani Diklat Polri Angkatan 50/54, ia merasa sudah memiliki bekal fisik dan mental yang kuat.

Bahkan, menurutnya, sekolah atlet telah mengajarkan disiplin yang tidak jauh berbeda dengan kehidupan di lembaga pendidikan kepolisian.
“Saya sudah terbiasa hidup teratur sejak lama. Peluit pelatih kemudian berganti menjadi komando instruktur. Semangatnya tetap sama, yaitu disiplin, kerja keras, dan tidak menyerah,” ungkapnya.
Kini sebagai anggota Polwan yang bertugas di Polda Metro Jaya, Putri masih memegang teguh tiga nilai yang diwariskan dunia olahraga, yaitu kerja tim, bergerak cepat, dan pantang menyerah. Nilai tersebut menjadi pedoman dalam menjalankan tugas sehari-hari sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat.
Meski telah berhasil meraih cita-citanya, Putri tidak pernah menganggap dirinya sosok yang istimewa. Ia percaya keberhasilan yang diraihnya hari ini bukan karena bakat semata, melainkan karena konsistensi untuk terus bangkit setiap kali menghadapi kesulitan.
“Dulu saya hanya anak SD yang iseng memegang bola voli. Tidak ada yang spesial. Yang membawa saya sampai di titik ini hanya satu, yaitu tidak pernah menyerah,” tuturnya.

Bagi Putri, kegagalan adalah bagian dari proses yang harus diterima setiap orang. Karena itu, ia selalu mengingatkan generasi muda untuk tidak mudah berhenti ketika menghadapi tantangan.
“Orang hebat bukan yang tidak pernah jatuh. Orang hebat adalah mereka yang setiap kali jatuh, memilih untuk bangkit sekali lagi,” katanya.
Perjalanan Putri Wulansari menunjukkan bahwa karakter kuat tidak dibangun dalam semalam. Dari lapangan voli hingga mengenakan seragam Polwan, ia membuktikan bahwa kerja keras, disiplin, dan ketekunan dapat menjadi bekal penting untuk meraih impian apa pun.
