Makassar, TeropongJakarta.com – Ipa Bahya, S.S., M.A., seorang dosen luar biasa di Universitas Hasanuddin, Makassar, telah menjalani perjalanan hidup yang penuh dengan tantangan untuk mencapai cita-citanya dalam dunia sastra dan pendidikan. Lahir di Kota Bima pada 30 Maret 2000, Ipa sejak kecil menunjukkan kecintaan pada literasi dan hasrat untuk mengabdi melalui dunia akademik.
Meski terlahir dari keluarga yang mengalami kesulitan ekonomi, terutama setelah orangtuanya bangkrut akibat kebakaran, semangat Ipa untuk melanjutkan pendidikan tidak pernah pudar. “Ibuku selalu menekankan bahwa pendidikan adalah kunci masa depan. Itu yang selalu saya pegang teguh,” kata Ipa mengenang masa kecilnya. Pada masa transisi dari SD ke SMP, ia hampir berhenti sekolah setahun, tetapi berkat dorongan ibunya, ia akhirnya bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Setelah menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah di Kota Bima, Ipa melanjutkan studi S1 di Universitas Hasanuddin dengan jurusan Sastra Indonesia. Pilihan ini bukan tanpa alasan. “Sastra adalah cara saya untuk memahami dunia dan segala kompleksitas yang ada di dalamnya. Saya merasa karya sastra dapat mencerminkan kehidupan yang penuh dengan moralitas dan ketidakadilan sosial,” ujar Ipa.

Di tengah studi S1, Ipa menulis skripsi berjudul Nilai-Nilai Religius dalam Novel Dalam Dekapan Cinta Sang Khalik Karya Rafy Sapuri Tinjauan Struktural, yang mengantarkannya pada kelulusan dengan predikat memuaskan. Namun, perjuangan Ipa belum selesai. Ia melanjutkan pendidikannya ke jenjang Magister Sastra di Universitas Gadjah Mada (UGM). “Sebelum diterima di UGM, saya harus melewati tantangan besar, terutama dalam memenuhi syarat TOEFL dan TPA. Proses ini sangat menuntut, namun saya tahu ini adalah langkah besar untuk mencapai impian saya,” ungkapnya.
Selama masa studi magister, Ipa semakin tertarik pada isu-isu sosial, khususnya yang berkaitan dengan perempuan, kaum marginal, dan ketidakadilan sosial. “Sastra bukan hanya soal menulis atau membaca, tetapi juga soal memahami realitas sosial dan mengkritisinya. Melalui sastra, kita bisa membuka mata terhadap ketidakadilan yang sering terabaikan,” katanya.
Setelah menyelesaikan pendidikan magister dengan penuh perjuangan, Ipa kembali ke Makassar untuk mengabdi di kampus pertamanya, Universitas Hasanuddin. Ia kini berperan sebagai dosen luar biasa dan bertekad untuk menginspirasi mahasiswa untuk mengejar pendidikan tinggi dengan semangat dan tekad. “Pendidikan adalah investasi terbesar dalam hidup, dan itu bukan hal yang mudah. Saya ingin mahasiswa saya memahami pentingnya perjuangan dalam menuntut ilmu,” ujarnya.
Keinginan Ipa untuk mengajar muncul sejak awal, meskipun awalnya ia ragu dengan pilihan jurusan. “Saya dulu ingin masuk jurusan kedokteran, tetapi keluarga tidak mengizinkan karena masalah biaya. Setelah berdiskusi dengan kepala sekolah, saya akhirnya memilih Sastra Indonesia, yang pada waktu itu banyak dibutuhkan sebagai pengajar,” kenangnya.

Ipa Bahya berharap agar mahasiswa yang ia ajar bisa melihat pendidikan sebagai jalan untuk berkembang dan meningkatkan kualitas diri. “Saya ingin mereka tahu bahwa pendidikan adalah kunci untuk membuka berbagai peluang. Dan itu harus dijalani dengan penuh semangat, karena tantangan yang dihadapi tidak akan seberat manfaat yang didapatkan,” kata Ipa dengan keyakinan.
Sebagai penutup, Ipa mengungkapkan bahwa meskipun ia sudah melewati banyak tantangan, perjalanan ini selalu menjadi inspirasi untuknya dan bagi orang-orang di sekitarnya. “Sastra mengajarkan saya untuk menghargai setiap proses dalam hidup. Saya berkomitmen untuk terus mengabdi dan memberikan yang terbaik bagi dunia pendidikan,” kata Ipa yang kini bertekad untuk terus memberi kontribusi positif di dunia akademik dan sastra.
