Cirebon, TeropongJakarta.com – Di tengah derasnya arus gaya hidup serba modern, dr. Efendi Agnilinia, Sp.GK, atau yang akrab disapa dr. Agni, mencatat satu pola yang terus menguat: masalah gizi pada orang dewasa kian mengkhawatirkan. Dosen di kota Cirebon itu menilai persoalan tersebut bukan hanya soal pola makan, melainkan cermin kondisi masyarakat yang semakin terjebak dalam ritme hidup tak berimbang.
Sebagai dokter spesialis gizi klinik, dr. Agni menyebut pasien dengan obesitas kini menjadi kelompok yang paling sering ia tangani. “Obesitas adalah penyakit kronik dengan peningkatan massa lemak berlebihan. Dampaknya luas dan bisa meningkatkan risiko diabetes, hipertensi, fatty liver hingga stroke,” ujarnya.
Ia menjelaskan, obesitas pada masyarakat urban bukan hadir dalam ruang hampa. Penyebabnya kompleks dan multifaktorial. Pola makan tak teratur, asupan berlebih, kurang tidur, stres, hingga gaya hidup sedentari menjadi paket lengkap yang memicu kondisi tersebut. “Pola hidup modern seperti mendorong orang menjauh dari keseimbangan tubuhnya sendiri,” kata dr. Agni.
Fenomena lain yang tak kalah meresahkan adalah maraknya diet instan dan diet viral yang dipromosikan tanpa dasar ilmiah. Menurut dr. Agni, kesalahpahaman terbesar masyarakat adalah menganggap bahwa satu jenis pola makan cocok untuk semua orang. “Padahal diet itu sifatnya personal. Kondisi kesehatan, kebutuhan kalori, dan pola aktivitas setiap orang berbeda,” ujarnya.

Situasi inilah yang kemudian memicu berbagai masalah baru. Dr. Agni mengaku kerap menerima pasien yang datang dengan keluhan rambut rontok, menstruasi tidak teratur, kelelahan kronis, hingga mood yang mudah berubah. “Alih-alih sehat, mereka justru jatuh dalam kondisi kekurangan nutrisi,” katanya.
Dalam menangani masalah tersebut Gizi klinik menitikberatkan pada asesmen menyeluruh sebelum memberikan terapi. “Terapi medik gizi harus disesuaikan dengan kondisi setiap pasien. Kami memantau dan mengevaluasi agar hasilnya efektif dan berkelanjutan,” jelasnya.
Pendekatan personal ini terutama penting bagi pasien dengan penyakit metabolik seperti diabetes melitus, obesitas, dan fatty liver yang semakin meningkat jumlahnya pascapandemi. Menurut dr. Agni, tanpa strategi yang tepat, penanganan penyakit metabolik hanya akan bersifat sementara.
Masuk ke era pascapandemi, dr. Agni melihat perubahan positif: masyarakat lebih sadar akan kesehatan. Namun ia mengingatkan, peningkatan kesadaran saja tidak cukup jika tidak dibarengi konsistensi. “Konsistensi adalah kunci. Pola hidup sehat dibangun dari kebiasaan sehari-hari, bukan perubahan instan,” tuturnya.

Ia menyoroti empat kebiasaan yang perlu dijaga jangka panjang: konsumsi makanan bergizi seimbang, aktivitas fisik cukup, hidrasi memadai, serta kemampuan mengelola stres. Menurutnya, empat hal ini merupakan fondasi dasar yang tak boleh ditinggalkan.
Perubahan gaya hidup pascapandemi memang membuka peluang untuk memperbaiki status gizi, namun ancaman baru juga terus bermunculan mulai dari tren diet ekstrem, minim olahraga, hingga pola makan tinggi kalori yang semakin normal dalam keseharian. “Jika tidak diantisipasi, banyak masalah kesehatan yang akan muncul akibat pola hidup yang tidak sehat,” katanya.
Dalam berbagai kesempatan mengajar dan menangani pasien, dr. Agni selalu menekankan bahwa kesehatan gizi tidak bisa dibangun dari gimmick, tantangan diet, atau mitos yang beredar di media sosial. “tubuh manusia terlalu berharga untuk dijadikan bahan eksperimen tren” ujarnya.
Melalui pendekatan ilmiah dan pendidikan masyarakat, dr. Agni berharap Indonesia mampu keluar dari lingkaran masalah gizi yang kini menghantui banyak keluarga. “Kita hanya perlu lebih jujur pada tubuh kita dan memilih gaya hidup yang bisa kita jalankan terus-menerus,” tutupnya.
