Kediri, TeropongJakarta.com – Nama Lilik Herlinawati mungkin tak muncul di layar kaca atau berita utama, tapi kisah hidupnya bergema kuat di hati banyak pekerja migran Indonesia. Perempuan 44 tahun asal Kediri, Jawa Timur, ini menjelma bukan sekadar asisten rumah tangga di Singapura. Ia seorang ibu, mahasiswa, model, kreator konten, dan penyintas rindu kampung halaman.
“Awalnya saya ke luar negeri karena himpitan ekonomi,” ujar Lilik saat dihubungi melalui sambungan WhatsApp, akhir pekan lalu. “Tapi lama-lama, saya sadar, tujuan utama saya adalah agar anak-anak bisa sekolah setinggi-tingginya.” Ia mengaku tak ingin anak-anaknya mengulang kisahnya: terbatas oleh keadaan, tapi berjuang melampaui keterbatasan.
Pekerjaan harian Lilik tak jauh berbeda dari ribuan pekerja migran lainnya di negeri orang. Ia memasak, mencuci, mengurus anak majikan, hingga menjadi supir pribadi kecil-kecilan untuk antar jemput sekolah. Namun di balik tugas-tugas itu, ada kehidupan yang tumbuh perlahan di layar TikTok, di kelas daring Universitas Terbuka, dan di panggung komunitas.

Tantangan awalnya tak main-main. “Saya homesick berat,” kenangnya. Hidup di negeri asing, jauh dari keluarga, menghadapi budaya dan bahasa baru, serta tuntutan pekerjaan yang tak kenal waktu membuatnya nyaris tumbang. Ia bahkan harus belajar memasak dari nol. “Saya belajar dari YouTube. Setiap hari nonton resep baru.”
Untuk menyiasati stres, Lilik menyalurkan energinya ke media sosial. Facebook dan TikTok awalnya hanya jadi tempat mencari resep dan hiburan ringan. Namun kini, dua platform itu jadi galeri kreatifnya. “Saya banyak bikin konten bareng teman-teman PMI. Kadang foto, kadang video lucu-lucuan, tapi juga kampanye positif,” katanya.
Yang menarik, Lilik bukan hanya menciptakan konten sendiri. Ia juga berkolaborasi dengan fotografer lokal Singapura, tampil dalam pemotretan bertema, dan bahkan ikut komunitas modeling PMI. Tahun 2019, ia menyabet penghargaan Miss Beauty Putri Nusantara (Sub Award). Disusul Best Performance dalam ajang Miss Singapore Indonesian 2024.

“Jangan remehkan PMI,” ujarnya tegas. “Kami bukan cuma ART. Kami juga bisa jadi seniman, mahasiswa, bahkan pembicara kalau ada kesempatan.” Lilik membuktikannya sendiri. Di tahun keempatnya di Singapura, ia mendaftar kuliah di Universitas Terbuka, mengambil jurusan Manajemen. Kini ia sudah semester empat.
Kuliah sambil kerja tentu bukan perkara gampang. Lilik mengandalkan malam hari dan waktu istirahat untuk mengerjakan tugas. “Kalau capek, saya ingat anak-anak saya. Itu bikin saya kuat.” Ia juga aktif ikut kegiatan komunitas di hari libur. Kadang jadi relawan, kadang ikut pelatihan, bahkan sempat tampil membacakan puisi di Esplanade Theatre untuk acara Kaleidoscope of Voice 2024.
Di tengah tekanan kerja dan jarak yang membentang dari rumah, Lilik punya satu rahasia menjaga kewarasannya: lingkungan positif. “Saya selalu kelilingi diri saya dengan orang-orang yang suportif. Saya juga nggak ragu cerita kalau lagi sedih. Jangan dipendam sendiri,” katanya. Ia juga rutin menelepon keluarganya agar tetap terhubung secara emosional.

Baginya, menjadi ibu dari jauh adalah luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Tapi ia percaya, luka itu adalah bagian dari perjuangan menuju masa depan yang lebih baik. “Saya tahu ini berat. Tapi saya percaya, anak-anak saya kelak akan mengerti dan menghargai setiap tetes keringat ini.”
Kepada sesama pekerja migran, Lilik selalu menyampaikan satu pesan: jangan hanya kerja, tapi juga berkembang. “Siapkan mental, fisik, dan skill sebelum berangkat. Kuasai bahasa, pelajari budaya, dan jangan takut bermimpi.” Ia juga menyarankan untuk mencari komunitas dan mengikuti kegiatan positif, bukan hanya untuk hiburan tapi juga pengembangan diri.
Kini, Lilik tak lagi sekadar mengisi waktu dengan kerja rumah tangga. Ia mengisi hidupnya dengan visi besar dan langkah nyata. Dari dapur rumah majikan, ia melangkah ke panggung modeling, ruang kelas digital, hingga pentas teater puisi. Dalam sunyi dan peluh, Lilik membuktikan satu hal: bahwa perempuan, bahkan dari Kediri, bisa bercahaya di mana pun berada.
